Romi Maulidi (HI UMY 2009) didepan kampus tempat dirinya memperdalam bahasa Spanyol di Kolombia.

 

Romi Maulidi, alumni Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta angkatan 2009, berbagi cerita tentang kesuksesannya menembus beasiswa ELE FOCALAE/ASIA untuk memperdalam bahasa Spanyol di Kolombia.

Prakarsa program ELE FOCALAE (sekarang lebih dikenal dengan ELE ASIA+ krna cakupan negara yang berpartisipasi telah bertambah) lahir pada tahun 2012 dengan kunjungan Wakil Menteri Luar Negeri, Patti Londoño Jaramillo, ke beberapa negara di Asia Tenggara. Selama kunjungan ini otoritas pariwisata di wilayah tersebut menyoroti peningkatan wisatawan yang berasal dari negara-negara berbahasa Spanyol dan meminta Pemerintah Kolombia untuk melakukan kolaborasi untuk melatih pemandu wisata mereka dalam bahasa Spanyol.

Indonesia menjadi salah satu bagian penting dari program ini guna meningkatkan SDM di Indonesia, khususnya dalam bahasa Spanyol, mengingat tempat kursus, sekolah, institusi, atau perguruan tinggi yang mengajarkan bahasa Spanyol di Indonesia masih sangat terbatas. Sehingga jumlah SDM yang bisa berbahasa Spanyol di Indonesia sangatlah sedikit, sementara kebutuhan guide berbahasa Spanyol yang mumpuni terus meningkat mengingat wisata Indonesia dengan slogannya “Wonderful Indonesia” terus diminati turis asing, khususnya dari Spanyol dan negara Amerika Latin yang mayoritas berbahasa spanyol.

Dengan demikian, pada tahun 2012, Kementerian Luar Negeri Kolombia membentuk Badan Kerjasama Internasional Kolombia (APC-Colombia), ICETEX, Instituto Caro y Cuervo, dan institusi pendidikan tinggi dengan program pengajaran bahasa Spanyol yang diakui sebagai bahasa untuk mengembangkan inisiatif. Program ini terlaksana sejak tahun 2013 berkat kerja sama entitas tersebut dan menerima 60 orang setiap tahunnya untuk belajar bahasa Spanyol di Kolombia. Pada tahun 2016, dalam versi keempat dari program ini terdapat peserta yang berjumlah 32 pemandu wisata dan 28 siswa berasal dari Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand, Vietnam, China, Mongolia, Myanmar, Filipina, Kamboja, Korea Selatan, Brunei dan Selandia Baru.

Romi Maulidi, menjadi salah satu dari 74 peserta terpilih yang berhasil menembus beasiswa prestisius tersebut untuk periode keberangkatan tahun 2017. Diakuinya, peserta yang diambil tahun ini memang lebih banyak daripada tahun sebelumnya karena penyelenggara melihat program yang berjalan selama 4 tahun (sejak 2013 sampai tahun 2016) telah sukses dan mendapat respon positif dari berbagai negara di Asia. Bahkan, Indonesia mendapat jatah peserta terbanyak yaitu 7 orang di antara peserta negara-negara lainnya.

“Kolombia terkenal sebagai tempat dimana bahasa Spanyol dilafalkan dengan baik oleh para penduduknya (Colombia donde se habla el mejor español), sehingga negara ini merupakan tempat yang tepat untuk belajar bahasa Spanyol. Tanggal 21 Juli 2017 kemarin saya berangkat saya bersama 6 orang peserta dari Indonesia lainnya dari berbagai daerah di Indonesia seperti Aceh, Jakarta, Magelang, Semarang, Bandung, dan Garut.”, tandasnya.

Ketujuh penerima beasiswa asal Indonesia disambut oleh Dubes Republik Indonesia untuk Kolombia, H.E Priyo Iswanto, dan staf KBRI di Wisma Indonesia, Bogota, Kolombia.

Program ini merupakan full bright scholarship, dengan kata lain, program ini membayar seluruh keperluan peserta mulai dari tiket pesawat pulang pergi Jakarta-Kolombia dan ke kota-kota penempatan (pemerintah Kolombia berhak menentukan di kota mana kita akan ditempatkan, red), pembuatan visa, biaya kursus, biaya ujian, hingga biaya living cost per bulan dari pemerintah Kolombia yang ditransfer langsung ke akun bank yang juga dibuatkan oleh pihak pemerintah Kolombia.

“Saya sendiri mendapatkan tempat belajar di kota Armenia, ibukota dari Departemento del Quindio. Suatu kota yang sangat tenang, orang-orangnya baik dan ramah, tidak terlalu banyak kemacetan, dan yang paling penting adalah kota ini merupakan sumbu dari pertanian kopi terpenting di Kolombia “eje del cafetero” yang daerahnya diakui dan dilindungi oleh UNESCO, jadi kualitas kopinya tidak perlu diragukan lagi. Di kota ini saya belajar di sebuah universitas bernama Universidad La Gran Colombia Armenia mulai dari Agustus sampai akhir November 2017 nanti.”, ceritanya.

Di akhir cerita, Romi menitipkan pesan kepada para junior mahasiswa maupun alumni HI UMY bahwa kesempatan belajar di luar negeri menggunakan beasiswa sangat terbuka lebar.

“Asal rajin belajar dan jangan cepat menyerah. Saya sendiri tidak menyangka akan sejauh ini membawa nama HI UMY hingga ke negeri Kolombia. Saya bangga menjadi bagian dari HI UMY yang muda mendunia!”, tutupnya. (diah)