Jurusan Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (HI UMY) menyelenggarakan konferensi internasional bertajuk “The End of Westphalian Settlement: Contemporary Global Challenges Towards the Nation-State System”, Senin (11/11/2013). Acara yang diselenggarakan di Ruang Sidang AR. Fachruddin A UMY lantai 5  ini diisi dengan presentasi  makalah yang disampaikan oleh dosen-dosen dari dalam maupun luar negeri.

“Penggagasan acara ini semata-mata untuk meningkatkan khazanah pengetahuan bagi mahasiswa HI pada khususnya, dan mahasiswa UMY pada umumnya, bahwasanya pembahasan mengenai sistem politik internasional saat ini sedang hangat diperbincangkan di percaturan global. Kegiatan ini juga merupakan salah satu sumbangsih UMY sebagai kampus Muda Mendunia bagi dunia internasional,” tutur Prof. Dr. Bambang Cipto, M.A., selaku Rektor UMY pada upacara pembukaan.

Acara ini dibuka oleh tiga keynote speaker dari kampus-kampus sekitar Asia. Ada Dr. Linda Quayle dari Melbourne University of Australia, yang saat ini menjadi dosen tamu di jurusan HI UMY, dengan makalahya yang banyak membahas tentang korelasi demokrasi, perlindungan kemanusiaan, dan intervensi kemanusiaan. Lalu, Henelito A. Sevilla, Jr. Ph.D dari University of The Philippines yang berbicara mengenai komparasi sistem politik internasional masa kini dengan politik luar negeri Filipina. Terakhir, ada Dr. Abubakar Eby Hara dari Universiti Utara Malaysia yang menyampaikan makalah bertemakan peluang dan tantangan dalam penerapan cosmopolitan democracy.

Ketiga keynote speaker ini memiliki cara pandang berbeda mengenai sistem politik internasional masa kini. Namun, ketiganya sepakat bahwasanya sistem politik inernasional saat ini lebih menekankan pada persaingan memperjuangkan sovereignty (kedaulatan) guna menempatkan posisinya di titik hegemoni tertentu. “Cosmopolitan Democracy seharusnya menjadi solusi terbaik dalam menyelesaikan masalah lintas-batas antar negara-negara yang disebabkan oleh sistem Westphalia.”, tegas Dr. Abubakar Eby Hara dalam pemaparan makalahnya.

Namun menurutnya, jika diterapkan di negara-negara Asia Tenggara dan di ASEAN, Cosmopolitan Democracy mungkin akan sedikit mengalami gangguan karena beberapa hal. Diantaranya adalah perbedaan politik antara negara-negara ASEAN dengan negara-negara regional lainnya. Juga karena lemahnya karakteristik post-Wesphalian system yang diterapkan oleh negara-negara ASEAN. “Akan menjadi sebuah perjalanan panjang dalam penerapannya.”, tambahnya.

Agenda selanjutnya, agar peserta lebih memahami tema yang sedang diperbincangkan, peserta dibagi menjadi 3 cluster yakni “Democracy, Human Security, Humanitarian Intervention, and State Sovereignty”, “The Uprising Role of Unprecedented Non-State Actors: How Nation-State Dealt With?”, dan “The Westphalian Nation-State System vs. the Rest: Are there any Other Alternative?”. Pembicara yang mempresentasikan makalahnya berasal dari 6 negara yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Australia, Jepang, dan Spanyol. (diah/fikar)

Tertarik dengan pelaksanaan kegiatan ini? Ingin mengetahui lebih lanjut? Dapat menghubungi kami via email hi@umy.ac.id.