Gerakan Mahasiswa Islam Kini Tak Bergeming

January 12, 2013 by : admin

Gerakan mahasiswa Islam yang dulu, berbeda secara pandangan tapi begitu kuat memegang prinsip Islam, serta peduli pada isu-isu seputar dunia Islam. Akan tetapi kini, gerakan mahasiswa Islam seakan tak peduli dengan isu-isu dunia Islam. Bahkan terkesan tak memberikan pengaruh pada kebijakan politik luar negeri pemerintah Indonesia, salah satunya isu Palestina dan Israel.

Demikian disampaikan Pakar Politik Dunia Islam jurusan Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (HI UMY) Muhammad Zahrul Anam, S.Ag, M.Si. dalam acara diskusi buku bertajuk “Persepsi Mahasiswa Islam terhadap Politik Luar Negeri Indonesia di Timur Tengah” di Ruang Simulasi Sidang HI UMY, Sabtu (12/1).

Turut menjadi pembicara dalam diskusi ini Pakar Diplomasi HI UMY Ratih Herningtyas, S.IP., M.A, serta Penulis Buku yang juga Dosen dan Alumni HI UMY Muhammad Faris Alfadh, S.IP., M.A. Adapun jalannya diskusi ini dipandu oleh Kepala Laboratorium HI UMY Ade Marup Wirasenjaya, S.IP., M.A.

Zahrul mengatakan, jika seandainya gerakan mahasiswa Islam di Indonesia bersatu, maka akan tercipta kekuatan yang dapat memberikan dampak signifikan terhadap pengambilan kebijakan pemerintah Indonesia.

“Gerakan mahasiswa Islam yang berbeda pandangan serta ideologi seperti saat ini, akan sulit untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah terutama kebijakan luar negeri. Tapi jika mereka bersatu, akan menghasilkan kekuatan yang tak tertandingi oleh gerakan mahasiswa lainnya,” kata dosen HI UMY ini.

Dari perspektif diplomasi, Ratih menjelaskan bahwa politik luar negeri suatu negara berasal dari apa yang terjadi di dalam negara itu sendiri. Sehingga kelompok mahasiswa merupakan kelompok yang mempunyai andil besar dalam pengambilan kebijakan luar negeri di suatu negara.

“Politik luar negeri berasal dari dalam negeri itu sendiri. Jadi sangat tepat yang dibahas dalam buku ini, bahwa dalam pengambilan kebijakan, pemerintah juga memperhatikan aspirasi dari mahasiswa,” jelas Sekretaris IPIRELs ini.

Dalam diskusi buku tersebut, Faris menjelaskan bahwa ketertarikan pergerakan mahasiswa Indonesia salah satunya adalah mobilisasi masyarakat. Dengan mobilisasi masyarakat tersebutlah yang membuat mahasiswa suka melakukan demonstrasi.

”Menurut kebanyakan gerakan mahasiswa, bahwa hal yang menarik adalah mobilisasi masyarakat. Sehingga mahasiswa sangat suka turun ke jalan melakukan demonstrasi. Akan tetapi mereka lupa untuk memperkaya intelektual sebagai mahasiswa,” jelas dosen HI UMY ini.

Faris menerangkan bahwa gerakan mahasiswa yang terpaut atau berafiliasi dengan partai politik tertentu akan mengakibatkan hilangnya idealisme pergerakan mahasiswa tersebut.

”Dapat kita lihat, jika suatu pergerakan mahasiswa berafiliasi pada partai politik tertentu. Maka idealismenya sebagai mahasiswa akan tereduksi,” terangnya.

Faris juga menambahkan bahwa gerakan mahasiswa dalam struktur pengambilan kebijakan di pemerintahan terletak di pressure group (kelompok penekan), selain itu pemerintah juga melihat ke gerakan mahasiswa karena gerakan mahasiswa lebih terstruktur dan terorganisir.

“Gerakan mahasiswa terletak di bagian kelompok penekan dalam pembentukan kebijakan oleh pemerintah. Selain itu pemerintah melirik gerakan mahasiswa karena lebih terstruktur,” tambahnya. (syah)