Sering kali kita temukan perbedaan yang cukup besar antara teori dengan kenyataan. Antara berada dalam kelas dan di lapangan. Landasan bagi setiap akademisi yang ingin belajar selalu dimulai dengan norma. Sedangkan praktisi tidak mempersoalkan norma atau tidak, yang penting bertindak cepat dan tepat.

Demikian yang juga terjadi antara prodi Hubungan Internasional dengan user nya yaitu Departemen Luar Negeri (DEPLU). Berbicara tentang teori hubungan internasional yang berbelit – belit di dalam ruang kuliah bukan sesuatu yang utama bagi DEPLU dalam merumuskan kebijakan luar negeri. Kebijakan antara prodi HI dan DEPLU memiliki kesenjangan perspektif.

”Akademisi cenderung berperspektif egosentris, idealis, dan tak dibatasi oleh waktu, sedangkan praktisi lebih pragmatis, praktis, dan selalu memiliki timeline,”ungkap Prof.Dr.Tulus Warsito, guru besar Hubungan Internasional UMY, selaku pembicara dalam seminar Konvensi Nasional I, serta Launching Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) yang diadakan di gedung AR. Fachruddin A, Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ( UMY), Kamis (3/12).

Dengan lahirnya Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII), Tulus berharap bisa menerapkan perspektif disiplin ilmu yang merupakan gabungan cara pandang antara akademisi dengan praktisi. Sehingga bisa mereduksi luasnya jurang pemisah antara prodi Hubungan Internasional dengan Departemen Luar Negeri.

Bagi Tulus, AIHII diharapkan bisa membuka dialog dengan DEPLU untuk berbagi tentang kebutuhan perumusan kebijakan luar negeri baik dalam high politics seperti keamanan, pemerintahan, politik, maupun low politics seperti ekonomi. DEPLU juga diharapkan bisa menjadi input kajian di dunia ilmu HI dan membantu dalam mekonstruksi kurikulum di prodi. Sinkronisasi antara kurikulum prodi HI dengan kebutuhan user yaitu DEPLU adalah hal yang harus terus dikaji sehingga lulusan HI adalah lulusan yang dibutuhkan oleh DEPLU. ”Komunikasi antara dua pihak ini harus bisa terus dimasifkan apalagi setelah revolusi teknologi memberikan ruang yang lebih luas untuk berdialog,” imbuhnya.

Sementara itu menurut Prof. Dr. Moehtar Mas’oed, selaku pembicara, perbedaan cara pandang ini menyebabkan terciptanya jurang pemisah antara akademisi HI dengan DEPLU. Selain perbedaan cara pandang tersebut, ada satu hal penting yang tidak terjalin baik antara akademisi dengan praktisi yaitu masalah komunikasi. ”Dunia praktisi dan dunia akademisi tidak membuka ruang komunikasi bagi terciptanya sinkronisasi yang baik bagi keduanya,”tandas Moehtar. (adit)

diunduh dari: http://comes.umy.ac.id/file.php/1/arsip/Resources_ppt/2009/3_AIHII%20DIHARAPKAN%20MEMBUKA%20RUANG%20DIALOG%20%20PRODI%20HI%20DAN%20DEPLU.doc