Pemateri dari prodi HI UMY dan Murdoch University, Australia, sedang memberikan paparan mengenai dinamika ekonomi regional, 22/3.

Program studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (HI UMY) menyelenggarakan  kuliah umum bertemakan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP): Kesempatan dan Tantangan terhadap Integrasi Ekonomi ASEAN dan Relasi Indonesia dengan Australia, di ruang siding utama lantai 5, Gedung AR. Fachruddin A, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, kemarin 22/3.

Kuliah umum kali ini menghadirkan akademisi dari Murdoch University, Australia, yaitu Prof. Kanishka Jayasuriya selaku Ketua Jurusan Politics and International Studies dan Dr. Jeffrey Wilson selaku Dosen Senior International Political Economy serta hadir pula pemateri dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yaitu Prof. Dr. Tulus Warsito selaku Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Diskusi mengenai kesepakatan perdagangan bebas di kawasan Asia-Pasifik dalam bentuk RCEP dan ASEAN Economic Community dipimpin oleh Ketua Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Nur Azizah, S.IP, M.A. Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) merupakan kesepakatan perdagangan bebas antara sepuluh negara ASEAN dengan Australia, Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan dan Selandia Baru, yang digadang-gadang merupakan bentuk rivalitas Tiongkok terhadap Trans-Pacific Partnership (TPP) yang berada dibawah Amerika Serikat.

“Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat 2017 memberikan kejutan tersendiri. Trump mengeluarkan kebijakan untuk menarik diri Amerrika Serikat dari TPP. Hal ini merupakan pukulan keras bagi TPP yang kehilangan Amerika Serikat sebagai pendonor terbesar TPP. Hal ini membuat saingan dari TPP, yaitu RCEP keluar sebagai pemenang karena merupakan satu-satunya kendaraan yang tersisa bagi perdaganbgan multilateralisme di Asia, walaupun memang masih banyak tantangan yang harus dihadapi oleh RCEP. hal ini juga membuat Tiongkok keluar sebagai pemimpin ekonomi di kawasan Asia yang baru”, terang Dr. Jeffrey Wilson. (dini, diah)