img_9072-2-3

Program studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (HI UMY) bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (BPPK KEMLU RI) menyelenggarakan kuliah umum tentang Indian Ocean Rim Association (IORA) yang akan dihadiri oleh H.E Ambassador K.V Bhagirath, selaku IORA Secretary General, di ruang sidang Amphi Theatre Gedung Pasca Sarjana, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

H.E Ambassador K.V Bhagirath berbicara selama kurang lebih satu jam dihadapan 150 civitas akademika HI UMY mengenai seluk beluk IORA, capaian, sekaligus peluang dan tantangan, bertepatan dengan momentum keketuaan Indonesia di IORA periode 2015-2017.

IORA adalah satu-satunya organisasi negara-negara dikawasan Samudera Hindia yang menghubungkan tiga benua, yaitu Australia, Asia, dan Afrika termasuk kawasan Timur Tengah. IORA beranggotakan 21 negara, diantaranya: Indonesia, Australia, Singapura, Malaysia, Thailand, India, Bangladesh, Sri Lanka, Oman, Yemen, Iran, UAE, Somalia, Seychelles, Mauritius, Madagascar, Comoros, Tanzania, Kenya, Mozambique, dan Afrika Selatan.  Sementara dua negara lainnya, yaitu Maldives dan Myanmar diharapkan dalam waktu dekat akan segera bergabung ke dalam IORA. Disamping itu IORA memiliki enam negara mitra dialog, yaitu: Jepang, AS, Perancis, Inggris, Mesir, dan  China.

Seperti diketahui, “Poros Maritim Dunia” merupakan politik luar negeri Indonesia yang terus digencarkan oleh pemerintahan Joko Widodo. Visi Presiden Jokowi untuk mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai negara maritim sangat terkait dengan kepentingan Indonesia di Samudera Hindia. Sebagai Negara kepulauan terbesar di dunia, laut adalah masa depan bagi ekonomi Indonesia. Laut telah menyedia berbagai potensi seperti ikan, mineral, minyak, gas, dan lain-lain yang perlu digarap secara optimal bagi kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia.

Keketuaan Indonesia di IORA merupakan momentum terbaik untuk  melancarkan diplomasi demi mencapai tujuan PLN tersebut. Prodi HI UMY memandang diskusi-diskusi tentang maritim seperti ini penting digalakkan, sehingga nantinya civitas akademika bisa memberikan sumbangsih dalam jalur akademis demi tercapainya agenda PLN Indonesia. (diah)